Saturday, April 03, 2010

RS Family Medical Center Bogor Dituding Kurang Peduli pada Warga Tidak Mampu


BOGOR-
Rumah Sakit.Family Medical Center (RS.FMC) yang terlatak di Jalan Raya Jakarta – Bogor atau tepatnya di bilangan Cimandala dituding kurang peduli terhadap warga yang berasal dari keluarga tidak mampu. Akibat kekurang pedulian ini, seorang anak balita yang berobat di rumah sakit tersebut akhirnya meninggal dunia.

‘’Anak saya sempat ditelantarkan begitu saja, saat dirawat di rumah sakit tersebut,’’ujar Edy Murty, seorang warga Bogor, baru-baru ini.

Edy yang merupakan wartawan Swara Nasional Post di Bogor ini mengaku sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit yang dibangun pada 2007 lalu itu.

‘’Anak saya bernama Harry Bhayangkara Murty, berusia delapan bulan. Saat itu (bulan Februyari 2010), anak saya menderita diare disertai panas tinggi. Ketika saya membawa anak saya itu ke RS FMC, pihak rumah sakit tidak segera memberikan perawatan kepada anak saya. Anak saya dibairkan saja terbaring di ruang perawatan tanpa mendapat penaganan medis dari dokter. Yang membuat saya lebih kesal lagi, salah seorang karyawan RS.FMC. yang bertugas di bagian kasir memaksa saya harus menyediakan uang jaminan sebesar Rp 1,5 juta. Karena pada saat itu saya tidak membawa uang yang dibutuhkan akhirnya saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu guna mencari uang pinjaman kepada kerabat saya,’’ujarnya.

Setelah Edy mendapat uang tersebut, dia langsung kembali ke RS.FMC dan menyerahkan uang tersebut di bagian kasir. Setelah dia menyetor uang jaminan tersebut barulah anaknya mendapat perawatan dari dokter.

Pada sore harinya, dokter mengatakan bahwa anaknya menderita penyakit cukup berat dan kritis. Bila tidak segara ditolong, dikhawatirkan penyakit anaknya bertambah parah dan berakibat menimbulkan gangguan mata dan otak. Untuk itulah dokter menyarankan agar anaknya dirawat secara intensif di ruang ICCU.

‘’Untuk mendapat perawatan tersebut saya diharuskan menyediakan uang jaminan lagi sebesar Rp 4 juta ditambah biaya rawat inap sebesar Rp 700 ribu per hari dan uang pemeriksaan sebesar Rp 175 ribu setiap penyakit anak saya diperiksa dokter. Karena tak memiliki uang sebesar yang diminta pihak RS.FMC, saya pun memohon kepada pihak RS FMC agar mau memberikan layanan kesehatan sebagaimana mestinya terhadap anak saya. Tentang biaya perawatan selama dirawat di RS.FMC saya bilang kepada petugas rumah sakit, nanti akan saya carikan, yang penting anak saya bisa
diselamatkan,’’kata Edy.

Tapi sayangnya pihak RS.FMC tidak bergeming dan tetap bersikeras bahwa dia harus mendepositokan sejumlah uang di RS.FMC. Karena dia tidak memiliki uang sebesar yang diminta pihak RS.FMC, akhirnya dia pasrah dengan nasib anaknya.

‘’Beberapa hari kemudian, karena anak saya tidak mendapat perawatan medis yang maksimal akhirnya nyawa anak saya tidak terolong dan meninggal dunia,’’ujarnya.

Yang lebih mengenaskan lagi, walaupun anaknya sudah meninggal dunia, dan karyawan RS.FMC juga mengetahui kalau dia tidak memiliki uang, karyawan RS.FMC tersebut masih memaksa Edy untuk melunasi kekurangan biaya perawatan anaknya.

‘’Syukurlah pada saat itu adik saya memberikan uang pinjaman hingga akhirnya jenasah anak saya diperbolehkan untuk dibawa pulang. Atas peristiwa ini, saya berharap kepada pimpinan RS.FMC agar memiliki rasa kepedulian dan tidak bersikap arogan kepada warga kabupaten Bogor yang tak mampu dan sedang ditimpa musibah. Sebab, setahu saya salah satu kewajiban rumah sakit adalah memberikan pertolongan kepada semua orang yang membutuhkan layanan kesehatan tanpa melihat apakah orang tersebut orang kaya atau orang miskin. Jangan hanya karena yang datang ke RS.FMC adalah orang miskin lalu tidak mendapat layanan kesehatan yang maksimal. Selain itu kepada pejabat yang berwenang di Kabupaten Bogor agar mau memberi peringatan dan teguran kepada rumah sakit yang diketahui tidak memberikan layanan kesehatan maksimal kepada orang miskin. Sebab jika hal tersebut dibiarkan saya khawatir akan menimbulkan preseden buruk terhadap masyarakat Kabuoaten Bogor lainnya,’’ujar Edy.

7 comments:

Anonymous said...

sama kejadiannya dengan keponakanku... pelayanannya sangat buruk sekali

Anonymous said...

rumah sakit ini harus diperiksa sama dinas terkait mengenai pelayanannya termasuk dokter²nya.. orientasinya hanya UANG.. UANG dan UANG!!!!!!!!!

Anonymous said...

iya saran saya juga kalau tidak terpaksa jgn ke rs ini rs ini pelayanan nya buruk ... apalagi suster-suster mudanya amatiran dan menyebalkan kejadian sama anak saya yang masih bayi

Anonymous said...

Kenapa ya stiap ada masalah seperti ini dokter selalu disalahkan. Padahal saya perhatikan di setiap rumah sakit, yang meminta DP atau uang2 lain bukan dokter, tapi pihak RS. Biasanya para dokter malah tidak tau tarif

Anonymous said...

Dimana dimana kalau rumah sakit swasta memang sistem nya seperti itu..... makanya kalo mw gratis buat BPJS dong.... n pilih rs skit yg bekerja sama dgn BPJS... kalau tau tidak pnya uang begitu tau biaya mahal lgs minta rujuk ke rmh skit yg bekerjasama dgn BPJS. dan juga jangan salahkan dokter2 yang bertugas karena dktr hanya mentaati peraturan dri manajer rumah sakit. Berpikir lah jernihhh.

Anonymous said...

Saat ini sudah ada pergantian pemilik dan manajemen rumah sakit, kiranya bisa lebih baik melayani masyarakat

Hasan Malek said...

Butuh pinjaman pribadi dari perusahaan yang dapat diandalkan pinjaman, Persetujuan Instan, Tidak ada jaminan, Low tarif, maka perusahaan pinjaman Hasan adalah tempat yang tepat, kami menyediakan semua jenis pinjaman sebesar 2%. Jika Anda tertarik, Anda dapat menghubungi kami melalui email di: hasanloancompany@gmail.com
salam,
Pak Hasan Malek