Sungguh Mengenaskan, Ana, Sejak Lahir Tergeletak di Tempat Tidur hingga 12 tahun

PATI-Mempunyai keturunan adalah dambaan sebuah keluarga. Tidak jarang mereka yang telah menikah, namun tidak kunjung mendapatkan keturunan akan mengupayakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Apa pun jenis kelaminnya, anak adalah penerus sebuah keluarga. Akan tetapi, apa yang bias diperbuat jika buah hati yang diidamkan ternyata mengalami kelainan semenjak usia dini. Hal tersebut menimpa pasangan Subur (38) dan Rapi, warga Dukuh Jambean, Desa Ronggo Kecamatan Jaken, Pati. Anak yang didambakannya setelah perkawinan, ternyata mengalami kelainan semenjak usia bocah menginjak 36 hari. “Tidak ada tanda aneh sebelumnya. Seperti bayi pada umumnya,” tutur Rapi.

Ana Helniawati, demikian anak tersebut pada awalnya mengalamai panas tinggi. Oleh ibunya, Rapi diperiksakan ke bidan desa. Oleh bidan pada waktu itu didiagnosa ada kelainan pada diri gadis kecil tersebut. 

“Bu bidan saat itu menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, namun karena tidak ada biaya terpaksa kami rawat semampunya di rumah,” imbuh Subur yang kesehariannya berjualan mi dan kopi ini. Hingga menginjak usia 12 tahun, Ana tidak menunjukkan perkembangan semestinya seperti anak seusianya.

Dia hanya menghabiskan harinya di atas tempat tidur. Itupun sangat tidak layak, hanya selembar kasur lantai tipis yang ditutup tikar, dan diletakkan di lantai tanah yang beralaskan plastik.

Kondisi Ana sangat memprihatinkan, kedua kakinya mengecil dan selalu disilangkan. Sementara tangan kirinya tidak jauh berbeda, mengecil dan jemarinya sangat kaku. “Sampai saat ini dia belum bisa ngomong. Hanya beberapa kata yang bisa dia ucapkan,” tutur Rapi sambil membasuh badan anaknya dengan handuk yang dibasahi.

Sesekali tampak senyum menghias di bibir bocah malang itu. Dengan penuh kasih sayang, sang ibu merawat dan menghibur anak semata wayangnya. Rapi menuturkan selama kehamilan dulu memang jarang memeriksakan kandungannya ke dokter maupun bidan desa. Akan tetapi setelah anaknya lahir, dia membawa si jabang bayi ke bidan desa untuk diberi imunisasi.

“Seingat saya sudah imunisasi lengkap,” kenang Rapi.

Kehidupan keluarga ini jauh dari kata cukup. Penghasilan yang didapat dari warung yang selama ini ditekuni Subur, hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan makan. Meski ada keinginan untuk memberikan pengobatan yang layak bagi anaknya hingga sembuh, namun Subur tidak tahu harus berbuat apa.
Membayangkan biaya rumah sakit saja keluarga ini takut.

Pernah ada kesempatan, Ana mondok di RS. RAA Soewondo, Pati namun entah mengapa tidak sampai tuntas pengobatannya. “Tanggal 28 September lalu, selama seminggu dia mondok di rumah sakit, tapi kata dokternya peralatan untuk memeriksa rusak,” tuturnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Joko Wahyudi, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang waktu itu membawa Ana ke rumah sakit.

“Saat itu petugas rumah sakit mengatakan kalau CT scan-nya rusak,” imbuh Joko Wahyudi.

Padahal, masih menurut Joko CT scan merupakan peralatan standar yang harus dimiliki sebuah rumah sakit dan selalu siap bilamana dibutuhkan. “Kami hanya diberitahu, kemungkinan ada kelainan di kepala. Penanganan yang memungkinkan hanya operasi,” Subur menambahkan.

Membayangkan biaya operasi bagi anaknya, meski mereka mendambakan kesembuhan, keluarga ini seolah putus harapan. Dari mana biaya operasi yang tentunya sangat besar bisa mereka dapatkan. Sementara penghasilan tidak mencukupi. Sejauh ini, menurut keterangan keluarga dan juga Joko Wahyudi, selama pemeriksaan di rumah sakit menggunakan fasilitas Jamkesmas, akan tetapi ketika RSD. RAA Soewondo Pati tidak dapat menangani lebih lanjut, tidak disarankan atau diberi rujukan ke rumah sakit lain.

Demi untuk mengurusi buah hati tercinta, Rapi terpaksa tidak bekerja. Dia hanya menggantungkan hidup dari pekerjaan suaminya yang tidak seberapa. Bahkan dia mengaku trauma untuk memiliki anak lagi. “Sudahlah, saya hanya ingin merawat anak saya ini. Dia sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya secara utuh,” ucap Rapi dengan pelan.

Ana Helniawati, bocah perempuan kelahiran 18 Maret 1998 benar-benar bergantung pada kasih orang tua. Meski hanya sesuap nasi atau pun seteguk air, orang tuanyalah yang melayani. Hanya kasihan dan trenyuh yang akan kita rasakan, ketika menatap sosok lemah yang hanya bisa terbaring selama 12 belas tahun ini. Sesekali tawa kecil atau kata-kata yang kurang jelas meluncur dari mulutnya ketika melihat orang menyambangi, seolah ingin menyapa mereka. Terkadang, Rapi didampingi suaminya memangku buah hatinya di teras rumah. “Melihat Ana tertawa dan kadang berceloteh, membuat kami gembira. Sesaat mampu menghilangkan beban yang menghimpit,” pungkas Subur.(hasan)

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur