Monday, November 08, 2010

Din Syamsuddin: Sangat Layak Bencana Gunung Merapi Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional

Keterangan Foto: Situasi saat pemberangkatan 64 jenasah yang akan dimakamkan secara massal dari RS Dr. Sardjito (atas) dan sejumlah jenasah saat  dimakamkan dalam satu lobang (bawah).


MAGELANG - Meski pemerintah sudah menetapkan koordinator penanganan bencana Merapi berada di tangan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), namun Presiden SBY belum menetapkan bencana Merapi sebagai bencana nasional. Dengan melihat ruang lingkup ancaman letusan Merapi, Din Syamsuddin menilai penetapan Merapi sebagai bencana nasional sudah layak.

"Sangat. Sangat layak, bencana gunung Merapi sebagai bencana nasional karena lingkup sangat luas melibatkan rakyat yang mengungsi hampir 200 ribu orang," tegas kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin.

Terkait dengan penanganan bencana Merapi, Din menilai, kinerja pemerintah dalam menangani korban belum berjalan maksimal. Banyak posko pengungsian yang didirikan secara mandiri oleh warga ataupun masyarakat luas belum terpantau oleh pemerintah. 

"Posko pengungsi tidak terlalu terjangkau oleh pemerintah. Logistik menumpuk di pemerintah tidak seluruhnya tersebar dan terdistribusi ke posko-posko. Masyarakat perlu perhatian lebih," tegas Din. 

Minggu (7/11/2010) kemarin, Din Syamsuddin mendatangi pengungsi di Ponpes Muhammadiyah Kecamatan Muntilan, Magelang. Din Syamsudin juga mengunjungi 8 titik pengungsi yang berada di Magelang, Jawa Tengah. "Salah satu titik di Magelang sebanyak 40 ribu. Ada sebanyak 18 posko di bawah naungan Muhammadiyah," tegas Din.   

Terkait penanganan bencana, kata Din, sebanyak 26 RS Muhammadiyah se-Jawa Tengah menyediakan pelayanan psikologi, pelayanan pendidikkan anak-anak dan pengungsi. Muhammadiyah juga menurunkan sebanyak 95 orang petugas evakuasi korban letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah dari organisasi kepemudaan Muhammadiyah yang bernama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).


Sejumlah Relawan Tewas

Dari RS RS Sardjito  Yogyakarta, dilaporkan sedikitnya 2 Taruna Siaga Bencana (Tagana), 5 relawan dan 4 warga belum ditemukan menyusul ledakan dahsyat Gunung Merapi. 6 Jenazah baru tiba di RS Sardjito.
"Kami di sini selain mencari 2 personel Tagana, juga mencari 5 relawan lain dan 4 warga lain," kata anggota Tagana, Yadi, di depan ruang forensik RS Sardjito, Jalan Kesehatan,
Yogyakarta, Senin (8/11/2010).

Anggota Tagana yang masih hilang yakni Supriyadi asal Kulonprogo, dan Supriyanto dari Cangkringan. Mereka hilang sejak Kamis 4 November 2010 saat menunggu jemputan di Posko Logistik, Glagaharjo, Cangkringan,
Yogyakarta.

Selanjutnya 5 relawan yang belum ditemukan yakni Arif Widiatmoko dari Cangkringan, Yadi dari Cangkringan, Agus dari Cangkringan, Ngatimin dari Kali Tengah Kidul, dan  Supono dari Kali Tengah Kidul.

Empat  Warga yang hilang adalah Muji Raharjo dari Argo Mulyo, Asep Nugroho dari Argo Mulyo, Juminah dari Argo Mulyo dan Darjo Karyo dari Glagaharjo.

Empat relawan yang tewas bernama Ariatno, Samiyo, Supriyadi, dan Supriyanto. Jenazah Ariatno dan Samiyo sudah berhasil ditemukan dan kini berada di Rumah Sakit dr Sardjito, Sleman,
Yogyakarta. Sedangkan jenazah Supriyadi dan Supriyanto belum bisa dievakuasi.

Keempat relawan itu tewas saat terjadi letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat pada Kamis 4 November malam hingga Jumat 5 November keesokan harinya. Mereka sedang bertugas untuk mengevakuasi penduduk di Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

Hari Minggu kemarin, telalh dimakamkan 64 jenasah korban letusan merapi secara missal. Pemberangkatan 64 jenasah korban dilakukan di RS Sardjito Yogyakarta pukul18.20 wib dengan dikawal oleh aparat kepolisian beserta keluarga korban.
Ke-64 jenasah korban asal desa Argomulyo,Sleman,
Yogyakarta itiu dimakamkan di mberan, Margomulyo, Sleman, dalam satu liang lahat berukuran 28m x 7 m.

Penjarahan

Sementara itu berkaitan dengan isu-isu tak bertanggung jawab seputar Merapi yang beredar melalui SMS atau dari mulut ke mulut, dicurigai mengandung motif penjarahan.

"Saat situasi seperti  ini selalu saja ada SMS isu yang nggak jelas.
Ada yang bawa-bawa nama instansi pemerintah juga. Instansi saya, Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Boyolali juga pernah dibawa-bawa padahal kita nggak pernah menyebarkan SMS apa-apa," kata Kepala Badan Kesbangpolinmas Boyolali, Jawa Tengah, Sumantri,  Senin (8/11/2010). 

Isu-isu yang beredar di kalangan masyarakat Boyolali antara lain akan terjadi gempa besar hari ini akibat aktivitas Merapi.
Ada pula isu awan panas Merapi akan menjangkau jarak 65 km sehingga membahayakan Boyolali.

"
Ada lagi SMS yang memakai instansi saya, Kesbangpolinmas, yang isinya menyatakan Merapi mengandung gas beracun. Banyak informasi gelap yang sengaja diedarkan, saya curiga ini maksudnya untuk penjarahan," ucapnya.

Dalam kondisi bencana, masyarakat akan mudah panik ketika mendapatkan informasi yang tidak diketahui kebenarannya. Karena panik, mereka pun memilih mengungsi meninggalkan daerahnya. Nah pada saat itulah, penjarah memanfaatkannya untuk beroperasi.

"Karena itu saya mohon masyarakat tidak gampang percaya sama informasi gelap itu. Percayalah pada informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogya, karena mereka yang memantau Merapi,"imbau Sumantri.

Sementara itu, beredar informasi, banyak warga dari Kecamatan Selo, Musuk dan Cepogo yang mengungsi karena isu letusan Merapi menjangkau jarak 65 km. Ribuan warga mengungsi ke sekitar tempat pemandian Pengging.

Namun Sumantri menyampaikan, tidak ada warga Pengging yang mengungsi maupun mendapat gelombang pengungsi besar. Menurutnya, Madrasah Ibtidaiyah Pengging dan SMAN Banyudono dipersiapkan untuk menampung pengungsi dari daerah lain kalau penampungan di
kota kabupaten kelebihan pengungsi.

"Rumah saya dekat Pengging. Warga tetap tenang. Sebagian besar pengungsi itu ada di
kota. Pasar dan warga beraktivitas seperti biasa," jelasnya. (Christian/indroyono)


No comments: