Warga Desa Binangun Andalkan Buah Srikaya Untuk Tambahan Pendapatan

REMBANG-Tanaman srikaya mungkin bukan asli tumbuhan Indonesia, tetapi sudah merakyat sejak dahulu kala dan sangat disukai masyarakat. Walau daging buah kecil dan banyak bijinya, srikaya buahnya berasa manis dan berbau harum bila sudah masak.

Buah srikaya pulalah yang selama ini menunjang tambahan pendapatan warga desa Binangun kecamatan Lasem. Di desa itu, di tiap halaman rumah warga pasti dijumpai tanaman srikaya, bahkan jumlahnya lebih dari dua pohon. Tanaman yang berbuah tak kenal musim itu, selama ini menyokong pendapatan tambahan bagi warga setempat.

Seperti yang diutarakan Sulastri pemilik 12 tanaman srikaya baik tumbuh di halaman depan dan belakang rumah. Diterangkan,  setiap kali tanaman srikaya miliknya berbuah, sedikitinya dipanen sekira 30 kilogram berbagai ukuran, kurang lebih berjumlah 120 an biji. Namun srikaya dijual oleh warga desa Binangun per biji, untuk ukuran sedang dihargai 1.000 rupiah sedangkan ukuran besar mencapai 2.000 rupiah."Dalam satu bulan rata-rata kami memperoleh pendapatan tambahan sebanyak 650 ribu rupiah, dari hasil menjual buah srikaya," tuturnya

Menurut dia, bila saat buah srikaya masak banyak tengkulak buah dari pasar Lasem berburu stok dagangan ke desa Binangun, sehingga warga tidak kerepotan untuk menjualnya. "Bahkan tak jarang ada tengkulak dari Semarang mendahului, melakukan aksi tebas saat buah mendekati masak," cetusnya.    

Terpisah, Koordinator Penyuluh Pertanian lapangan (PPL) Kecamatan Lasem Budi Sutrisno menyebutkan, srikaya termasuk salah satu buah primadona di Indonesia, namun masih tergolong buah minor atau sulit ditemukan di pasar.
"Tanaman srikaya dapat tumbuh pada semua jenis tanah," paparnya.

Namun kata dia, tempat paling tepat untuk tumbuh kembangnya tanaman srikaya berada di ketinggian antara 100-1000 meter diatas permukaan laut (dpl), tetapi yang terbaik pada ketinggian sedang antara 100-300 m dpl. "Lebih maksimal lagi bila tanah berpasir dan mengandung kapur, seperti komposisi tanah di desa Binangun," ungkapnya.

Menurut dia, agar pendapatan warga desa Binangun lebih meningkat dari budidaya tanaman srikaya, akan diupayakan metode menanam dalam pot. Karena trend sekarang ini orang lebih suka merawat tanaman buah dalam pot (tabulampot) yang harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. "Kuncinya dari aparatur desa dan kecamatan ada kepedulian untuk mensosialisasikan tabulampot. Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan lasem siap memberikan pelatihan tata cara menanam dan merawat," sebutnya.

Ditambahkan, untuk pemasaran tabulampot pemilik tanaman tidak perlu khawatir, karena di kota-kota besar banyak pengusaha tanaman hias yang siap menampung. "Asalkan memenuhi kriteria yang mereka tentukan," imbuhnya. (hasan) 

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur