KPK Tahan Sutedjo Yuwono, Sesmenko Kesra Era Aburizal Bakrie

Sutedjo Yuwono (kiri) ditahan KPK.

JAKARTA- Setelah menjadi tersangka lebih dari setahun,  Mantan Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Sutedjo Yuwono akhirnya ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (7 Februari 2011)). Sutedjo ditahan di rumah tahanan Polres Jakarta Selatan. Sutedjo adalah tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan pada rumah sakit rujukan  penanganan Flu Burung tahun 2006. Dia menjabat sebagai Sesmenko Kesra sejak 2005 hingga 2009.


Dia di periksa sejak 09.30 WIB hingga 16.30 WIB di Kantor KPK. Usai diperiksa, Sutedjo yang menggunakan  kemeja putih ini enggan berkomentar dan langsung memasuki mobil tahanan bernopol B 8638 WU untuk dibawa  ke rutan Polres Jaksel.

"Untuk kepentingan penyidikan kami melakukan upaya penahan selama 20 hari ke depan," ujar staf humas  KPK, Priharsa Nugraha, di gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/2/2011).

Perbuatan Sutedjo diduga telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 32 miliar. Adapun nilai kontrak  pengadaan senilai Rp 98 miliar. Sutedjo dikenakan dengan pasal sangkaan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Modus korupsi itu dilakukan dengan cara menggelembungkan harga pembelian alat-alat kesehatan hingga 200  persen. Dalam informasi yang diperoleh, alat-alat kesehatan yang diduga digelembungkan itu antara lain  berupa Bronchoscopy merk Olympus buatan Jepang, dimana harga kontrak satu unitnya diperkirakan Rp 538  juta dan harga subkontraknya Rp 529,9 juta ternyata harga agennya hanya Rp168 juta. Selisihnya mencapai  Rp 370 juta.

Sedangkan untuk alat itu, Depkes saat itu membutuhkan sekitar 11 unit. Contoh lain yaitu, alat  defibrilator merk Criticare buatan Amerika Serikat, diperkirakan harga kontraknya Rp 103 juta dan harga subkontrak Rp 101 juta, ternyata harga agennya hanya Rp 30,6 juta. Sehingga mark up mencapai 237 persen atau Rp 72 juta. Untuk alat tersebut Depkes membutuhkan 25 unit.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Artis Sinetron Lidya Pratiwi Sampai Terlibat Pembunuhan?

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Produksi Minuman Keras Ilegal Merek ‘’Rajawali’’, Komisi B DPRD DKI Minta Pemerintah Tegas Menindak CV Jakarta Indonesia Makmur